Glad To See You Smile

August 26, 2007

aku hadir disana…
kau tersenyum, entah kenapa…
tapi kau pasti tak tahu…
banjir bunga dihatiku.

(untuk seorang bidadari yang terlihat begitu lucu saat itu, dan semakin manis saat tersenyum, menampakkan lesung pipit yang kurindu)

menulis puisi untukmu, di LIMUNY setelah bertemu, dengan headset menempel di kedua telinga, terdengar lirih lagu lama ini…

When I see you smile
I can face the world
Oh you know I can do anything
When I see you smile
See a ray of light
Oh see it shining right through the rain
When I see you smile
Baby when I see you smile at me.

kau tahu? aku sungguh rindu senyum itu… apakah benar senyum itu untukku?

mataku terbuka pelan,
memandang kekiri dan kekanan…

pilar-pilar masjid putih bersih mengkilat terlihat,
terasa dingin lantai marmer berkarpet..

entah dimana ini, namun sungguh sangat nyaman…

tiba-tiba mataku terhenti di sesosok pria…
menuju kearahku, membawa kesejukan…
wajahnya yang bersinar mencipta rindu…
senyumnya mendamaikan hati…
air mataku mengalir deras…
membasahi pipi…

benarkah ini?
beliau berada disini…
memandangku…
tersenyum padaku…
seorang yang tak berarti di dunia ini?

tiba-tiba beliau berhenti, tepat dihadapan
tangannya terulur, segera kusambut erat…
kuciumi dengan perasaan rindu yang teramat dalam…
air mata terus saja mengalir…
dan bibir berulang mengucap…
kata yang bisa kuucapkan…

Assalamu alaika, ya Rasulullah…..

maaf… aku…

August 15, 2007

maaf, rembulan… aku benar-benar gak tau harus berbuat apa senin itu… aku ingin datang… mendampingimu dalam melalui saat-saat sulit itu… tapi aku tau, aku bukan siapa-siapa… paling tidak, belum ada yang mengenaliku… masih banyak orang yang lebih berhak disisimu, rembulan, yang aku tahu, pasti sudah berada disana…

aku juga juga gak kuat liat dirimu sedih… aku juga gak pinter memberi kata2 utk menenangkan… apalagi aku gak tau, seperti apa perasaanku… seperti dulu, aku gak mau sok tau, sok bijak, memberimu kata2 penenang yang kosong… akan lebih mudah jika aku memelukmu dan mencium keningmu, jika memang diperbolehkan… namun aku tau itu tak mungkin…

aku hanya bisa kirim pesan singkat, juga panggilan tak terjawab di HPmu… sekedar memberi tau, kalau aku selalu ada disini, jika kau benar membutuhkanku… aku hanya bisa ngomong kayak yang di sms… maaf… tegar ya… af1 banget…

mungkin karena aku tak datang senin itu, rembulan gak mau kenal ma aku lagi… aku tau… aku gak ada disana, berada disampingmu… aku minta maaf…

menangislah, rembulan… walau aku tak tau seperti apa, namun aku sadar, pasti sangatlah berat… maka menangislah saat kau ingin menangis… aku mungkin tak bisa memberi nasihat yang berarti… namun pundakku selalu siap, saat kau membutuhkannya untuk menopang tangismu…

aku juga menangis disini, rembulan… menangis karena sadar, pasti kau juga sangat sedih… menangis karena merasa tak berguna, tak mampu menjadi penopang saat kau lemah… menangis aat menyadari bahwa diriku bukanlah apa-apa… aku menangis karena kau menangis… menangis karena tak berdaya…

jika saja kemarin… gak… semua dah berlalu… aku minta maaf… rembulan kuatin hati ya.. demi semua yang membutuhkanmu… demi adik… demi ibuk… demi semua yang mencintaimu…

sekali lagi maaf… aku gak tau harus berbuat apa, senin itu… maaf banget… jika memang kau ingin mengucapkan selamat tinggal, maka aku akan berusaha untuk tersenyum, karena tau, itulah yang kau inginkan… namun jika kau masih membutuhkanku… maka pundakku dan hatiku masih ada disini untukmu…

(untuk bidadari, yang sangat aku cintai…)

Pesan Untuk Istriku

August 15, 2007

dinda… jadilah kau semangatku… semangat yang membangunkanku disepertiga terakhir malam, tiada lain untuk berkholwat denganNya… yang setengah memaksaku untuk rutin membaca dan menghafal Alquran… yang senantiasa melambaikan tangan beserta senyum tulus melepasku pergi menunaikan amanah dakwah… yang menjadi pendorongku untuk selalu belajar… yang membuatku selalu rajin melaksanakan ibadah2 wajib dan sunnah… yang terus membuatku mampu mencari nafkah, hanya agar kita bisa menggunakannya sedikit, dan menginfakkan sebagian besarnya…

bidadari… marahlah padaku… ketika aku merasa malas menunaikan kewajiban dariNya… ketika aku lebih memilihmu dari pada para murid ngajiku… ketika aku membeli barang2 yang terasa menghamburkan uang…

rembulan… dampingi aku… dalam menunaikan tugasku sebagai nahkoda kapal kita… dalam segala tugas Jihad yang kadang terasa menyesakkan… dalam perjuangan meraih ridhoNya… dalam perjalanan menuju JannahNya…

mawarku… janganlah kau berpaling dari Ia… karena sungguh aku tak mau kau berpaling dariNya… karena walaupun aku mencintaimu… aku lebih mencintaiNya… teruslah berjalan bersamaku dijalanNya…

sayang… maafkan diriku, yang tak mampu memberimu segala kemewahan… jadi jika suatu saat ku tak bisa memiliki rumah sendiri… mobil sendiri… motor sendiri… tidak selalu bisa membelikanmu jilbab yang baru setiap tahunnya… dan tidak mampu memberi emas ataupun berlian…kuharap kau mau bersabar, dan selalu bersamaku… sungguh aku tak mungkin bisa menikmati semua itu, sementara masih banyak perut yang merasa lapar… masih banyak kulit yang terrajam dinginnya malam, dan yang belum tercukupi segala kebutuhannya…

cinta… sabarlah berjalan bersamaku… itu semua yang kuharapkan darimu…

aku sudah mengatakannya. sekarang giliranmu.

Hujan malam Ini

August 15, 2007

terbangun…
terdengar gemerisik samar,
bunyi tetes hujan menyapa jalanan…

kembali anganku mengingatmu…
adakah kau masih menangis?
menangislah, kekasih…
menangislah, jika itu bisa membuatmu lebih baik…
walau tak tahan aku melihat
bekas tangis dibawah kelopak matamu…

semoga hujan malam ini
mampu sedikit menyejukkan hati…

doaku selalu untukmu…

kembali aku membuka
halaman yang pernah membuatku terluka
biar pertanyaanmu tentang cinta
membuatku seolah telah memilikimu

pun kemarin aku dengar suaramu
lembut mengalun memukul gendang telinga
terasa angan membumbung tinggi
kurasa, aku telah memiliki

hatimu ada dimana, kasih?
disini atau disana?
atau kau tak mampu memutuskan
dan menanti semua dalam kesiapan?

sungguh aku tertegun
karena prasangka tak juga hilang
kembali sakit dada
saat terjatuh tuk kedua kalinya

aku tak mau menyalahkanmu yang
seperti memberi bendera hijau
aku tak mau menyalahkanmu yang
seperti mengangguk setuju

namun kini kembali kubuka
halaman yang pernah membuatku terluka
dan kuterkesiap saat
melihat kata cintamu disana

sungguh, aku terjatuh dari gunung tinggi
yang telah kaupaksa untuk kudaki
aku tak tahu, kasih…
siapa yang kau pilih??

pedih….

(catatan kecil puisi, setelah membuka profile di FS-mu, dan melihat profile mas "itu"… ternyata aku belum siap untuk melepasmu… walau cinta kadang harus merelakan…)